LKB Simpulkan Eksplorasi Tambang Panas Bumi Baturraden Akibatkan Keruhnya Air Sungai Prukut

Lingkar Kajian Banyumas (LKB) menyimpulkan aktivitas eksplorasi tambang panas bumi Baturraden oleh PT. Sejahtera Alam Energy (SAE) mengakibatkan keruhnya air Sungat Prukut. Karena itu, PT SAE harus bertanggung jawab atas kerugian masyarakat akibat keruhnya Sungai Prukut, terutama sektor pertanian, perikanan, dan peternakan.

Demikian hasil paparan penelitian LKB di Aula Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Jendral Sudirman Purwokerto, Selasa (28/2). Diskusi terselenggara atas kerjasama LKB, Lembaga Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lingkungan Hidup (LPPSH), dan Fisip Unsoed. Acara ini dihadiri oleh banyak pihak, baik pemerintah, masyarakat terdampak, sektor privat, pekerja sosial, lembaga profesi, dan mahasiswa.

LKB menunjukkan keruhnya air Sungai Prukut akibat longsornya material sisa dari aktivitas pembuatan jalan menuju lokasi proyek tambang panas bumi (Wellpad F) yang ke Sungai Citepus. Material sisa menimbun aliran Sungai Citepus yang mengalir ke Curug Cipendok. Akibatnya air di Curug Cipendok mengalami pengeruhan juga. Air menjadi cokelat pekat karena masuknya material sisa dalam jumlah besar yang membentuk sedimen.

Curug Cipendok merupakan hulu Sungai Prukut, sehingga perubahan kualitas air di curug itu akan berakibat pada kualitas air Sungai Prukut.

“Sisa material yang membentuk yangg menempel pada vegetasi di sekitar lokasi curug membentuk sedimen baru setebal 10 -15 cm. Material sedimen berupa pasir kasar dengan viskositas yang cukup rendah dan bersifat keras/padat. Selain itu, ada material lempung tufaan yang ikut terbawa aliran sehingga menyebabkan pengkeruhan air Sungai Prukut,” jelas Novita Sari, peneliti LKB.

Keruhnya air Sungai Prukut mengakibatkan sejumlah kegiatan masyarakat di sekitar sungai terganggu. Di bidang pertanian, warga khawatir keruhnya air akan berdampak pada kualitas dan kuantitas hasil pertanian mereka. Terlebih,  jauh hari sebelum aktivitas eksplorasi dilakukan, PT. SAE menjamin tidak dampak pada kualitas air seperti yang terjadi sekarang ini.

Di bidang perikanan, LKB menunjukkan data banyak ikan yang mati (besar/pun kecil) di Desa Panembangan dan Karangtengah. Untuk ikan ukuran besar yang mati rata-rata jenis ikan melem, ikan mujaer dan ikan dewa. Untuk ikan kecil yang mati adalah Ikan lele dan ikan dewa.

“Saat warga membedah ikan-ikan yang mati pada insang dan tubuhnya penuh dengan tanah,” lanjut Novita.

Keruhnya air Sungai Prukut juga mengakibatkan masyarakat khawatir tidak berani memberi minum ternaknya dengan air sungai. Masyarakat memilih menggunakan air sumur, air PDAM ataupun mencari air ke desa lain.

Jauh hari sebelum geger Sungai Prukut, Oktober 2016, ada 23 kelompok pengusaha tahu mengadu ke Pemerintah Desa Kalisari akibat mutu air sungai terus menurun. (BACA: Air Sungai Keruh, Pemdes Kalisari Beri Waktu Seminggu pada PT SAE untuk Atasi Pencemaran)

Dari penelitian di atas, LKB merekomendasikan agar PT SAE segera mengubah prosedur kerja pembukaan lahan supaya peristiwa longsornya timbunan infrastruktur ke aliran sungai tidak terjadi lagi. PT SAE juga disarankan untuk mempercepat langkah penanggulangan dampak air keruh Sungai Prukut, termasuk memberikan ganti rugi segera terhadap masyarakat yang terdampak.

Penuhi Hak Informasi Masyarakat

Pada diskusi itu Direktur Gedhe Foundation, Yossy Suparyo, menekankan pentingnya pemenuhan hak informasi masyarakat. Menurutnya, jauh-jauh hari seharusnya masyarakat mendapatkan informasi yang lengkap atas kegiatan pembangunan tambang panas bumi Baturraden, tak terkecuali dampak yang mungkin terjadi dari kegiatan proyek tersebut.

“Hak masyarakat untuk mendapatkan informasi itu kita dikenal denganFree and Prior Informed Consent (FPIC). FPIC sudah menjadi kesepakatan internasional sehingga PT SAE jangan hanya sosialisasi hal yang manis-manis saja dong,” jelas Yossy.

Pemenuhan hak informasi akan menjadi bekal awal bagi masyarakat untuk menyusun siasat hidup dengan lingkungan dan ekosistem yang baru. Logikanya, perubahan alam tentu akan mengubah cara hidup masyarakat yang tinggal di sekitarnya karena muncul ancaman, tantangan, peluang hidup yang baru.

Bagi Yossy, tidak ada proyek tambang yang nol risiko (zero risk), masyarakat harus cepat teredukasi dengan pengetahuan dan keterampilan hidup baru sehingga dapat menekan risiko-risiko yang mungkin muncul (reduction risk) .

“Kita dapat mencontoh pengalaman negara lain yang sudah maju dalam pengurangan risiko bencana. Saat gelombang tsunami melanda Jepang korbannya sangat minim karena masyarakat Jepang sangat paham bagaimana bertindak bila gelombang tsunami itu muncul,” lanjutnya.

Peristiwa keruhnya Sungai Prukut hanyalah bagian kecil dari dampak kegiatan eksplorasi dan eksplotasi tambang panas bumi Baturraden. Selanjutnya, ada kegiatan pengeboran yang dapat mengakibatkan sejumlah material mineral dan logam berbahaya ikut keluar ke permukaan.

Upaya antisipasi pasti sudah dilakukan oleh PT SAE, namun apabila faktor x yang mengakibatkan penyebaran material tersebut ke permukiman manusia juga harus diperhitungkan.

“Pengetahuan untuk menemukenali sumber-sumber risiko bencana sangat penting. Setelah itu, kita baru bisa merumuskan strategi pengurangan risiko bencananya,” pungkas alumni Jurusan Teknik Mesin Universitas Negeri Yogyakarta itu.

 

admin

Admin Desa Membangun

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *