Siapa Kami

Sejarah

Gerakan Desa Membangun (GDM) tercetus pada 24 Desember 2011 di Desa Melung, Kedungbanteng, Banyumas. Saat itu, Pemerintah Desa Melung dan Gedhe Foundation menyelenggarakan Lokakarya Desa Membangun (LDM). Lokakarya itu diikuti oleh Desa Melung, Desa Karangnangka, Desa Kutaliman, Dawuhan Wetan (Kedungbanteng, Banyumas) dan Desa Mandalamekar (Jatiwaras, Tasikmalaya).

LDM bertujuan untuk berbagi pengalaman dari desa-desa dalam tata kelola sumber daya desa. Desa Mandalamekar diundang secara khusus karena dinilai berhasil dalam menerapkan strategi baru tata kelola sumber daya desa, seperti pertanian, hutan desa, dan konservasi sumber mata air secara mandiri sehingga menyabet penghargaan dalam bidang konservasi alam.

Semangat itu menginspirasi desa-desa di Banyumas untuk melakukan gerakan secara kolektif, maka lahirlah Gerakan Desa Membangun (GDM). GDM merupakan inisiatif kolektif desa-desa untuk mengelola sumber daya desa dan tata pemerintahan yang baik. Gerakan ini lahir sebagai kritik atas praktik pembangunan perdesaan yang cenderung dari atas ke bawah (top down) dibanding dari bawah ke atas (bottom up). Akibatnya, desa sekadar menjadi objek pembangunan, bukan sebagai subjek pembangunan. Desa tidak kurang diberi kewenangan dalam mengelola sumber daya yang ada di wilayahnya.

Bagi GDM, Undang-Undang Dasar 1945 menempatkan desa atau nama lain yang artinya sama sebagai kesatuan wilayah hukum yang berhak mengatur rumah tangga sendiri. Strategi yang disepakati adalah menunjukkan prestasi dan praktik baik pengelolaan desa, baik secara administratif, pelayanan publik, dan pengelolaan program pembangunan. Dengan kata lain, GDM menjadi jaringan kerja antardesa untuk berdaulat pada sisi ekonomi, politik, sosial, budaya dan teknologi.

Apa yang dikerjakan oleh GDM

  1. Mendorong penyelenggaraan pelayanan publik yang baik, efektif dan efisien.
  2. Pengembangan tata perencanaan, penganggaran, pelaksanaan pembangunan yang akuntabel dan transparan
  3. Mengelola Sumber Daya Desa yang berkelanjutan dengan kearifan kolektif masyarakat desa
  4. Penerapan teknologi tepat guna secara mandiri dan berbasis sumber terbuka (open source)
  5. Perlindungan warga desa yang migrasi ke luar negeri atau buruh migran

Susunan Organisasi

Dewan Pakar
Avi Mahaningtyas
Antok Suryaden
Bayu Setyo Nugroho
Budhi Hermanto
Joko Waluyo
Munawar Akhmad
Soetardjo Ps
M. Irsyadul Ibad
Sungging Septivianto
Irman Meilandi

Juru Bicara
Yossy Suparyo

Representasi Wilayah
Joko Pristiwanto (Cilacap)
Agung Budi Satrio (Banyumas)
Sahdi Sutisna (Ciamis)
Wahyudin (Majalengka)
Ahmad Rovahan (Cirebon)
Yana Noviadi (Tasikmalaya)
Ayi Sumarna (Bandung)
Zeka Kamil (Sukabumi)
Shodik Purnomo (Indragiri Hilir)
Muhammad Takdir (Sinjai)

Dukungan TIK dan Pelatihan
M. Khayat
Soepriyanto
Pri Anton Subardio
Rahmad Hafidz
Pradna Paramitha
Tommy Destryanto
Ahmad Fadli

Sekretariat GDM
Rumah Desa Indonesia
Rawasalak, Desa Pangebatan, Karanglewas, Banyumas
Telepon: +62 813 2893 3355
E-mail: desamembangun[at]gmail.com
Twitter: @desamembangun
Website: http://desamembangun.or.id

Helpdesk Desa Membangun
Pandean Umbulharjo Yogyakarta 55161
Telepon : (0274) 372 378Sejarah

Gerakan Desa Membangun (GDM) tercetus pada 24 Desember 2011 di Desa Melung, Kedungbanteng, Banyumas. Saat itu, Pemerintah Desa Melung menyelenggarakan Lokakarya Desa Membangun (LDM) dengan mengundang Pemerintah Desa Mandalamekar, Jatiwaras, Kabupaten Tasikmalaya sebagai kawan diskusi. Desa Mandalamekar berhasil menerapkan strategi baru dalam mengelola sumber daya desa, seperti pertanian, hutan desa, dan konservasi sumber mata air secara mandiri sehingga menyabet penghargaan dalam bidang konservasi alam.

Semangat itu menginspirasi desa-desa di Banyumas untuk melakukan gerakan secara kolektif, maka lahirlah Gerakan Desa Membangun (GDM). GDM merupakan inisiatif kolektif desa-desa untuk mengelola sumber daya desa dan tata pemerintahan yang baik. Gerakan ini lahir sebagai kritik atas praktik pembangunan perdesaan yang cenderung dari atas ke bawah (top down) dibanding dari bawah ke atas (bottom up). Akibatnya, desa sekadar menjadi objek pembangunan, bukan sebagai subjek pembangunan. Desa tidak kurang diberi kewenangan dalam mengelola sumber daya yang ada di wilayahnya.

Bagi GDM, Undang-Undang Dasar 1945 menempatkan desa atau nama lain yang artinya sama sebagai kesatuan wilayah hukum yang berhak mengatur rumah tangga sendiri. Strategi yang disepakati adalah menunjukkan prestasi dan praktik baik pengelolaan desa, baik secara administratif, pelayanan publik, dan pengelolaan program pembangunan. Dengan kata lain, GDM menjadi jaringan kerja antardesa untuk berdaulat pada sisi ekonomi, politik, sosial, budaya dan teknologi.

Apa yang dikerjakan oleh GDM

1. Mendorong penyelenggaraan pelayanan publik yang baik, efektif dan efisien.
2. Pengembangan tata perencanaan, penganggaran, pelaksanaan pembangunan yang akuntabel dan transparan
3. Mengelola Sumber Daya Desa yang berkelanjutan dengan kearifan kolektif masyarakat desa
4. Penerapan teknologi tepat guna secara mandiri dan berbasis sumber terbuka (open source)
5. Perlindungan warga desa yang migrasi ke luar negeri atau buruh migran

Susunan Organisasi

Dewan Pakar
A Budi Satrio
Avi Mahaningtyas
Antok Suryaden
Bayu Setyo Nugroho
Budhi Hermanto
Joko Waluyo
Munawar Akhmad
Soetardjo Ps
Yana Noviadi
M. Irsyadul Ibad
Sungging Septivianto

Representasi Wilayah
Sahdi Sutisna (Ciamis)
Joko Pristiwanto (Cilacap)
Agung Budi Satrio (Banyumas)
Wahyudin (Majalengka)
Ahmad Rovahan (Cirebon)
Shodik Purnomo (Indragiri Hilir)
Yana Noviadi (Tasikmalaya)
Ayi Sumarna (Bandung)
Zeka Kamil (Sukabumi)

Juru Bicara
Yossy Suparyo

Dukungan TIK
M. Khayat
Soepriyanto
Pri Anton Subardio
Rahmad Hafidz
Tommy Destryanto

Sekretariat GDM
Rumah Desa Indonesia
Rawasalak, Desa Pangebatan, Karanglewas, Banyumas
Telepon: +62 857 2966 6259
E-mail: desamembangun[at]gmail.com
Twitter: @desamembangun
Website: http://desamembangun.or.id

Helpdesk Desa Membangun
Pandean Umbulharjo Yogyakarta 55161
Telepon : (0274) 372 378