Strategi Pemberdayaan Desa Lewat Rumah Kreatif

sanggar kreatif jatitujuh majalengka
Sanggar Kreatif Jatitujuh, Majalengka
Banyak cara yang dapat digunakan untuk pemberdayaan desa, salah satunya adalah strategi kebudayaan. Pendekatan kebudayaan mampu mendorong penyadaran warga secara massif dan aktif mengambil inisiatif perubahan. Pelajaran berharga datang dari Desa Jatitujuh, Majalengka, Jawa Barat yang mampu selenggarakan festival seni internasional di desanya (30/3/2013).

Keberhasilan Desa Jatitujuh menjadi tuan rumah festival seni internasional tak lepas dari kerja keras Rumah Kreatif. Rumah Kreatif telah berdiri sejak 29 tahun yang lalu, tepatnya pada 1986. Kegiatan mereka dihidupi oleh, dari, dan untuk warga. Rumah Kreatif berdiri di tanah milik warga setempat yang merelakan lokasi itu sebagai sanggar tempat belajar, berlatih, dan berproses bersama. Di sanggar itu, warga berkreasi dalam bidang seni lukis, seni musik, seni suara, bahkan seni kerajinan tangan.

Tak disangka sebuah desa pinggiran di Kabupaten Majalengka mampu menggelar festival seni yang dihadiri para seniman mancanegara, seperti Australia, Mexico, Polandia, dan Venezuela. Sanggar kreatif Jatitujuh jauh dari gemerlap kepalsuan jagad hiburan ibukota, sanggar itu berdiri di tepi sungai dengan pagar alami berupa hamparan sawah warga. Namun, aura peradaban terpancar nyata. Perbedaan bangsa, bahasa, dan kebudayaan tak jadi kendala bagi mereka untuk berkolaborasi dalam karya seni.

Sutardjo Ps (Kiri) bersama Budiman Sudjatmiko (Pansus RUU Desa) di Festival Seni Internasional di Sanggar Kreatif Jatitujuh
Menurut Sutardjo Ps, Fasilitator Gerakan Desa Membangun (GDM) Majalengka, rumah Kreatif dikelola oleh Yayasan Kampung Konser Jatitujuh, sebuah lembaga nirlaba yang dikelola oleh warga setempat. Selain bergerak di bidang kebudayaan, Rumah Kreatif juga menjadi pusat kegiatan sosial dan pendidikan.

Rumah Kreatif memiliki empat program andalan, yaitu bidang seni budaya, pendidikan, lingkungan hidup, serta gelar karya dan even organizer. Di bidang seni budaya ada kegiatan musik (eksplorasi alat musik baru dan memainkannya, kursus musik gitar, perkusi, belentung, gegesek, vokal, serta pelestarian seni-seni tradisional), seni rupa (lukis, patung, handycraf, batik), tari (tari tradisional, modern, dan kontemporer), sasastra (menulis, membaca untuk tingkat TK, SD, SMP, SLTA), dan theater/film (pelatihan dan pembuatan film warga dan siswa sekolah).

Di bidang pendidikan, Rumah Kreatif mengadakan kursus bahasa Inggris, pendidikan anak usia dini, dan bantuan pembelajaran bagi siswa. Di bidang lingkungan hidup, ada kegiatan (1) menanam, memelihara dan menjaga pohon supaya daerah Jatitujuh tetap hijau, (2) melakukan kegiatan sosial seperti pemberdayaan masyarakat, kesehatan, dan rembug warga. Untuk bidang gelar karya dan event organizer, mereka melakukan festival musik dan tari, pameran seni rupa, gelar seni tradisi, festival memeron, festival musik Jatitujuh, dan festival bebegig.

Kini Sanggar Kreatif telah memiliki sejumlah fasilitas, ada bangunan permanen untuk galeri dan latihan, ada gasebo terbuka untuk ngobrol dan bertukar pendapat, serta panggung terbuka untuk pementasan. Semua itu mereka dapatkan berkat kerja keras dan konsistensi warga dalam menekuni seni maupun dunia kreatif. Setelah itu, baru ada dukungan dana Program PNPM Perdesaan Kabupaten Majalengka untuk merampungkan galeri dan melengkapi fasilitas sanggar. (YS)

Banyak strategi yang bisa digunakan untuk pemberdayaan desa, salah satunya adalah strategi kebudayaan. Pendekatan kebudayaan mampu mendorong penyadaran warga secara massif. Pelajaran berharga datang dari Desa Jatitujuh, Majalengka, Jawa Barat yang mampu selenggarakan festival seni internasional di desanya (30/3/2013).

Di Desa Jatitujuh ada Sanggar Kreatif yang telah 29 tahun berdiri. Kegiatan mereka dihidupi oleh, dari, dan untuk warga. Sanggar berdiri di tanah milik warga setempat yang merelakan lokasi itu sebagai tempat belajar, berlatih, dan berproses bersama. Di sanggar itu, warga berkreasi dalam bidang seni lukis, seni musik, seni suara, bahkan seni kerajinan tangan.

Tak disangka sebuah desa pinggiran di Kabupaten Majalengka mampu menggelar festival seni yang dihadiri para seniman mancanegara, seperti Australia, Mexico, Polandia, dan Venezuela. Sanggar kreatif Jatitujuh jauh dari gemerlap kepalsuan jagad hiburan ibukota, sanggar itu berdiri di tepi sungai dengan pagar alami berupa hamparan sawah warga. Namun, aura peradaban terpancar nyata. Perbedaan bangsa, bahasa, dan kebudayaan tak jadi kendala bagi mereka untuk berkolaborasi dalam karya seni.

Kini Sanggar Kreatif telah memiliki sejumlah fasilitas, ada bangunan permanen untuk galeri dan latihan, ada gasebo terbuka untuk ngobrol dan bertukar pendapat, serta panggung terbuka untuk pementasan. Semua itu mereka dapatkan berkat kerja keras dan konsistensi warga dalam menekuni seni maupun dunia kreatif. Setelah itu, baru ada dukungan dana Program PNPM Perdesaan Kabupaten Majalengka untuk merampungkan galeri dan melengkapi fasilitas sanggar.

Menurut Sutardjo Ps, Fasilitator Gerakan Desa Membangun (GDM) Majalengka, rumah kreatif Jatitujuh berdiri pada 1986. Rumah Kreatif dikelola oleh Yayasan Kampung Konser Jatitujuh, sebuah lembaga nirlaba yang dikelola oleh warga setempat. Selain bergerak di bidang kebudayaan, Rumah Kreatif juga menjadi pusat kegiatan sosial dan pendidikan.

Rumah Kreatif memiliki empat program andalan, yaitu bidang seni budaya, pendidikan, lingkungan hidup, serta gelar karya dan even organizer. Di bidang seni budaya ada kegiatan musik (eksplorasi alat musik baru dan memainkannya, kursus musik gitar, perkusi, belentung, gegesek, vokal, serta pelestarian seni-seni tradisional), seni rupa (lukis, patung, handycraf, batik), tari (tari tradisional, modern, dan kontemporer), sasastra (menulis, membaca untuk tingkat TK, SD, SMP, SLTA), dan theater/film (pelatihan dan pembuatan film warga dan siswa sekolah).

Di bidang pendidikan, Rumah Kreatif mengadakan kursus bahasa Inggris, pendidikan anak usia dini, dan bantuan pembelajaran bagi siswa. Di bidang lingkungan hidup, ada kegiatan (1) menanam, memelihara dan menjaga pohon supaya daerah Jatitujuh tetap hijau, (2) melakukan kegiatan sosial seperti pemberdayaan masyarakat, kesehatan, dan rembug warga.

Untuk bidang gelar karya dan event organizer, mereka melakukan festival musik dan tari, pameran seni rupa, gelar seni tradisi, festival memeron, festival musik Jatitujuh, dan festival bebegig.

One Reply to “Strategi Pemberdayaan Desa Lewat Rumah Kreatif”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *