Tiga Tahun Gerakan Desa Membangun

tiga tahun gerakan desa membangun gdm

tiga tahun gerakan desa membangun gdm

Tanggal 24 Desember 2014, Gerakan Desa Membangun (GDM) genap memasuki usia yang ketiga. Usia yang terbilang masih muda sekaligus merupakan usia emas dalam perkembangan sebuah gerakan sosial. Mengingat ini adalah gerakan sosial yang menjadi lingkar belajar bagi desa-desa di seluruh Nusantara. Dimana desa dengan kemauan dan kemampuannya sendiri berusaha untuk belajar bersuara demi kemandirian desanya sendiri. Didampingi oleh beragam komunitas, personal, stakeholder dan para pemangku kebijakan yang kemudian bergotong-royong bersama desa membangun Indonesia.

Dalam rentang tiga tahun sejak lokakarya GDM pertama di desa Melung 24 Desember 2011, tentulah tidak diisi dengan hanya berdiam diri. Macam-macam kegiatan untuk saling meningkatkan kapasitas demi tata kelola pemerintahan desa yang lebih baik telah diselenggarakan. Selain itu, dalam tiga tahun ini, Gerakan Desa Membangun telah berjejaring dengan lebih dari seribu enam ratus desa di seluruh desa Indonesia, tiga kementrian, PANDI (Pengelolaa Nama Domain Internet Indonesia), hingga PNPM. Sehingga kelas-kelas lokalatih untuk desa terus dilaksanakan di berbagai daerah Indonesia.

Diantara kegiatan-kegiatan untuk desa yang telah diselenggarakan GDM bekerjasama dengan banyak pihak adalah :

1. Lokakarya Desa Membangun I – VI di wilayah Bayumas (2011-2012)

Kuliah umum yang kemudian dilanjutkan dengan kelas lokalatih di wilayah Banyumas di tahap-tahap awal perkembangan GDM. Dari seri lokakarya ini desa-desa bersuara di wilayah Banyumas kemudian terdengar dan menyebar ke seluruh Indonesia.

2. Festival Jawa Kidul (2012)

Acara berskala nasional yang menghadirkan beragam peserta. Mulai dari desa hingga multi stakeholder ke sebuah desa terpencil di Jawa Barat. Acara ini berdampak pada terbukanya akses di desa Mandalamekar, Tasikmalaya sebagai tuan rumah. Desa pertama yang menginisiasi desa bersuara di tengah minimnya akses internet maupun infrastuktur jalan.

3. Domain desa.id

Diusulkan oleh desa sebagai bentuk identitas desa di ranah internet. Karena sebagai bentuk pemerintahan, desa tidak dapat menggunakan domain go.id secara mandiri. Diusulkan ke PANDI tahun 2012 baru kemudian setelah melewati tahapan-tahapan usulan, diresmikan 1 Mei 2013. Hingga kini sudah lebih dari seribu enam ratus desa dan terus bertambah yang telah menggunakan alamat web desa ini.

4. Jambore Buruh Migran (2013)

Jambore Buruh Migran merupakan bagian dari mengarusutamakan isu-isu buruh migran secara nasional. Salah satu pengarusutamaan dalam acara jambore buruh migran ini adalah rembug buruh migran mencari model Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Daerah. Acara ini diselenggarakan bekerjasama dengan Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber daya Manusia (Lakpesdam) NU Cilacap di desa Sidaurip Kecamatan Binangun kabupaten Cilacap.

5. Dengar Pendapat UU Desa (2013)

Merupakan bentuk mempengaruhi kebijakan nasional. Intensif berdialog dengan panitia kerja UU Desa, baik dalam forum resmi hingga ke DPR ataupun forum acara GDM. Sehingga hasil dari UU Desa dapat mengakomodir kebutuhan dari desa-desa melek teknologi.

6. Relawan TIK

Sebagai organisasi bentukan pemerintah (Kemkominfo) yang bertujuan untuk menjembatani kesenjangan teknologi, Relawan TIK merupakan wadah yang tepat sebagai pendamping desa. Maka, GDM berjejaring dan mendorong Relawan TIK di banyak daerah untuk mau sebagai meja bantu (helpdesk) TIK perdesaan.

7. Festival Desa TIK 2013 dan 2014

Festival Desa Teknologi Informasi dan Komunikasi (DesTIKa) telah dua kali dilaksanakan bekerjasama dengan Kemkominfo. Pertama di desa Melung (2013), dan tahun berikutnya di desa Tanjungsari. Ini merupakan ajang untuk penyerahan bantuan CAP (Community Access Point) dari Kemkominfo kepada desa. Sekaligus sebagai ajang temu antar desa jejaring GDM se-Indonesia.

8. Festival Domain Rakyat (2014)

Acara Gerakan Desa Membangun bagi desa-desa di wilayah Madiun, Bojonegoro, dan Ponorogo. Bekerjasama dengan PANDI, festival ini dilaksanakan selama dua hari di Madiun.

9. Desa 2.0 Cipta Media (2014)

Cipta Media merupakan organisasi memunculkan inisiatif-inisiatif untuk perubahan sosial yg lebih adil melalui penggunaan teknologi seluler. Cipta Media memberikan dana hibah bagi yang lolos sesuai dengan penilaiannya. Gerakan Desa Membangun terpilih karena berpotensi menciptakan pemerintahan yang terbuka dan transparan di tingkat desa.

10. Festival Nagari (2014)

Mengusung tema Mendorong Inklusi Sosial Melalui Pemberdayaan Kelompok Marginal. Acara ini terselenggara atas kerjasama Pemerintah Nagari, Pemerintah Kabupaten Dharmasraya, Kemitraan dan Gerakan Desa Membangun. Festival ini merupakan langkah awal bagi nagari-nagari 2.0 di wilayah Sumatera Barat.

11. Kelas-kelas Lokalatih di berbagai daerah Indonesia (2012-2014)

Dengan sifat terbuka GDM, maka dari daerah mana saja yang tergerak untuk mengadakan kelas-kelas lokalatih (in house training) untuk desa di wilayah masing-masing secara mandiri. Tanpa bergantung pada wilayah atau personal tertentu. Itulah yang selama dua tahun ini dilaksanakan oleh berbagai pihak di wilayah masing-masing.

Hingga kini, GDM bukanlah merupakan organisasi. Tetapi tetap mampu bertahan sampai sekarang. Kekuatan yang membuatnya bertahan adalah sifatnya yang terbuka dan dapat bekerjasama dengan siapa saja yang bertujuan untuk kemajuan desa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *